in ,

Disnakeswan Tulungagung lakukan Antisipasi Dini setelah temukan 20 Sapi terjangkit LSD

Tulungagung, (dNusa.id) – Sedikitnya 20 Ternak berupa sapi di Tulungagung, terinfeksi virus Lumpy Skin Desease (LSD), atau bentol yang terdapat pada kulit luar sapi

LSD merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae. Virus ini umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau.

Atas hal tersebut, Dinskeswan Tulungagung melakukan upaya dini antisipasi dengan pemberian desinfektan.

Sekertaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung, Agus Prijo Utomo menjelaskan, memang pihaknya menerima adanya laporan LSD di Kabupaten Tulungagung, atas laporan tersebut pihaknya berkoordinasi bersama dokter hewan untuk melakukan upaya penyembuhan.

Sekertaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung, Agus Prijo Utomo

Adapaun gejala awal ditandai dengan adanya panas tinggi pada hewan, dan kurangnya nafsu makan, jika ada gejala tersebut ternak harus dilakukan penanganan awal.

Meski menular, akan tetapi LSD tidak separah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), penyebarannya, termasuk juga tingkat kematian tidak separah PMK.

LSD sendiri bukan merupakan zoonosis, daging masih bisa dikonsumsi, akan tetapi tingkat proteinnya berkurang.

Penyakit LSD menular ke hewan ternak seperti sapi dan kerbau ,namun tidak menular ke manusia.

“LSD menyerang cover luar, yang mana tampilan hewan ternak menjadi buruk, selain itu ada penurunan protein pada ternak yang terkena virus LSD jika daging dikonsumsi,” Jelas Agus, Senin, (27/3/2023).

Meski demikian pihaknya tidak menggap remeh virus tersebut, atas laporan awal tersebut pihaknya sudah melakukan penanganan secara masif dan tingkat kesembuhan hewan mencapai 80 persen.

Penanganan sendiri pihaknya terus mengupayakan dengan memantau di 2 pasar yakni di Pasar Hewan Ngunut dan Pasar Hewan Terpadu (PHT) Sumbergempol ,sehingga apabila ditemukan penyakit LSD pada hewan akan didata dan dilakukan penanganan khusus dari hewan ternak tersebut.

“Saat ini teman teman dari Puskeswan Ngunut melakukan pengawasan di sana saat pasaran dan pengawasan di wilayah tersebut,” Ungkapnya.

Untuk mencegah lalu lintas ternak yang masuk ke Tulungagung, Agus menegaskan peternak harus sadar apabila diduga terinfeksi virus LSD agar dikarantina khusus, pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke penjual ternak apabila ada ternak dengan kondisi tersebut, apalagi virus tersebut juga menular jika ada hewan yang masuk ke pasar, pedagang harus kompak menolak.

“Penolakan untuk antisipasi penyebaran, tak lepas dari itu petugas juga mengecek kondisi ternak untuk dilakukan penanganan,” Pungkasnya.

20 Ternak Tulungagung, Terinfeksi LSD, Disnakeswan Tulungagung Antisipasi dini.

Tulungagung, (dNusa.id) – Sedikitnya 20 Ternak berupa sapi di Tulungagung, terinfeksi virus Lumpy Skin Desease (LSD), atau bentol yang terdapat pada kulit luar sapi

LSD merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae. Virus ini umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau.

Atas hal tersebut, Dinskeswan Tulungagung melakukan upaya dini antisipasi dengan pemberian desinfektan.

Sekertaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung, Agus Prijo Utomo menjelaskan, memang pihaknya menerima adanya laporan LSD di Kabupaten Tulungagung, atas laporan tersebut pihaknya berkoordinasi bersama dokter hewan untuk melakukan upaya penyembuhan.

Adapaun gejala awal ditandai dengan adanya panas tinggi pada hewan, dan kurangnya nafsu makan, jika ada gejala tersebut ternak harus dilakukan penanganan awal.

Meski menular, akan tetapi LSD tidak separah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), penyebarannya, termasuk juga tingkat kematian tidak separah PMK.

LSD sendiri bukan merupakan zoonosis, daging masih bisa dikonsumsi, akan tetapi tingkat proteinnya berkurang.

Penyakit LSD menular ke hewan ternak seperti sapi dan kerbau ,namun tidak menular ke manusia.

“LSD menyerang cover luar, yang mana tampilan hewan ternak menjadi buruk, selain itu ada penurunan protein pada ternak yang terkena virus LSD jika daging dikonsumsi,” Jelas Agus, Senin, (27/3/2023).

Meski demikian pihaknya tidak menggap remeh virus tersebut, atas laporan awal tersebut pihaknya sudah melakukan penanganan secara masif dan tingkat kesembuhan hewan mencapai 80 persen.

Penanganan sendiri pihaknya terus mengupayakan dengan memantau di 2 pasar yakni di Pasar Hewan Ngunut dan Pasar Hewan Terpadu (PHT) Sumbergempol ,sehingga apabila ditemukan penyakit LSD pada hewan akan didata dan dilakukan penanganan khusus dari hewan ternak tersebut.

“Saat ini teman teman dari Puskeswan Ngunut melakukan pengawasan di sana saat pasaran dan pengawasan di wilayah tersebut,” Ungkapnya.

Untuk mencegah lalu lintas ternak yang masuk ke Tulungagung, Agus menegaskan peternak harus sadar apabila diduga terinfeksi virus LSD agar dikarantina khusus, pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke penjual ternak apabila ada ternak dengan kondisi tersebut, apalagi virus tersebut juga menular jika ada hewan yang masuk ke pasar, pedagang harus kompak menolak.

“Penolakan untuk antisipasi penyebaran, tak lepas dari itu petugas juga mengecek kondisi ternak untuk dilakukan penanganan,” Pungkasnya.(riz)

What do you think?

Written by redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Sidak Dinkes Tulungagung, temukan Toko Tercemar Hama Tikus

Grider 145 Jembatan Ngujang 1 Dipasang, Satlantas Polres Tulungagung Terapkan Rekayasa Lalin.