in ,

Warga Tulungagung Tolak Dakwah Ulama Ba’alawi di Kota Marmer, Ternyata Ini Alasannya

Tulungagung, (dnusa.id) – Aliansi Masyarakat Tulungagung (AMT) menggelar aksi demo menolak dakwah ulama Ba’lawi di Tulungagung. AMT menganggap bahwa dakwah yang dilakukan ulama Ba’alawi merusak aqidah dan provokatif melawan pemerintah.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Mochammad Hamin Dhiyauddin mengatakan, pihaknya hari ini menggelar aksi damai dengan tema ‘Merajut Kebersamaan, Merajut Persatuan’. Aksi damai yang dilakukan AMT ini dilakukan dalam rangka menolak dakwah ulama Ba’alawi di Kabupaten Tulungagung.

M. Hamin Dhiyauddin-Korlap Aksi saat memberikan konferensi pers

Penolakan dakwah ulama Ba’alawi ini dilakukan karena pihaknya menganggap jika dakwah yang dilakukan di Tulungagung selalu meresahkan karena kerap membelokkan sejarah maupun aqidah umat islam. Hal ini tentunya membuat hasil dakwah tersebut tertanam dalam diri masyarakat yang menjadi jamaah mereka.

“Dakwah mereka ini dipenuhi klaim terutama tokoh-tokoh sejarah yang dikaitkan dengan ulama Ba’alawi, padahal kenyataannya tidak. Apalagi dakwah mereka juga cenderung provokatif dan melawan pemerintah,” Jelas Mochammad Hamin Dhiyauddin, Jum’at (13/12/2024).

Atas penolakan ini, pihaknya secara terang-terangan menutup pintu kehadiran ulama Ba’alawi yang ingin berdakwah di Kabupaten Tulungagung. Bahkan termasuk Habib Syekh bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf yang dalam waktu dekat seharusnya melakukan dakwah di Tulungagung juga ditolak.

Meski ditolak, sebenarnya pihaknya tetap menghargai ilmu agama yang dimiliki oleh ulama Ba’alawi, namun pihaknya menyayangkan jika dakwah itu disisipi dengan pembelokan sejarah. Terlebih lagi bagi ulama Ba’alawi yang terang-terangan melawan pemerintah melalui dakwah yang cenderung provokatif.

“Kami hargai keilmuan mereka soal agama, tetapi kami menolak dakwah mereka dengan mengklaim tokoh-tokoh sejarah di Indonesia ini berkaitan dengan Ba’alawi yang berasal dari Yaman,” ungkapnya.

Hamin menyebut, indikasi pembelokan sejarah atas dakwah ulama Ba’alawi ini juga sudah ada di Tulungagung seperti pada makam tokoh di Sambijajar, lalu tokoh di Gunung Budeg yakni Jaka Budeg dan beberapa tokoh lain yang diklaim juga berkaitan dengan Ba’alawi atau berasal dari Yaman, padahal nyatanya bukan.

Hamin melanjutkan, pihaknya meminta aparat pemerintahan di Tulungagung juga turut mengawal permasalahan ini dengan tidak memperbolehkan ulama Ba’alawi datang ke Tulungagung. Bahkan pihaknya mengancam akan melakukan sweeping jika pemerintah tutup mata dengan memperbolehkan kedatangan mereka.

“Saat ini kami tidak lakukan sweeping terlebih dahulu, dan menyarankan pemerintah untuk menutup pintu atas kedatangan ulama Ba’alawi. Tetapi kalau memang tidak diindahkan, kami akan bergerak sendiri untuk melakukan sweeping,” pungkasnya.

What do you think?

Written by redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Pemkab Tulungagung Gelar Apel Kesigapan Bencana Hidrometeorologi, Ratusan Personil Lintas Instansi dikerahkan

Perempatan Barat UIN SATU Tulungagung dilakukan Penerapan One Way, dari Buk Brombong Roda Empat dilarang Ke Selatan