Tulungagung, (dnusa.id) – Kasus leptospirosis di Tulungagung menelan tiga korban jiwa. Case Fatality Rate (CFR) yang tinggi turut mempengaruhi sebaran kasus leptospirosis.
Leptospirosis merupakan penyakit bakteri yang menyebar melalui air seni hewan yang terinfeksi.
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani mengatakan kasus leptospirosis telah menarik perhatian, karena sudah memakan tiga korban hingga meninggal dunia.
“Tiga korban tersebut terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan, bahkan ketiganya sudah masuk kategori leptospirosis red zone. Keadaannya sudah parah,” Jelas Desi, Sabtu, (1/2/2025).
Dalam kasus leptospirosis, tingkat prognosis atau kondisi medis cenderung sangat cepat memburuk. Sehingga penanganan harus dilakukan secepatnya.
“Kondisi pasien dengan leptospirosis itu sangat cepat memburuk, jadi harus cepat dibawa ke faskes seharusnya,” imbuhnya.
Ditambah gejala yang muncul ketika terserang leptospirosis adalah demam. Namun ada ciri khusus yang dialami oleh orang yang terserang leptospirosis, yaitu bagian mata menjadi kuning.
“Gejala leptospirosis itu hanya demam, dan bagian mata yang berwarna kuning. Identifikasi pasien dengan lepto harus disosialisasikan ulang dengan pihak puskesmas agar tidak terlambat identifikasi,” tuturnya.
Ketiga korban yang meninggal karena leptospirosis saat dirujuk ke IGD langsung masuk di red zone. Sebelumnya korban sempat diobati ke Puskesmas dan diharuskan medical check up dua hari kemudian.
“Tapi ketiga pasien baru kembali ke puskesmas ketika masuk di hari keempat dan kelima. Secara otomatis keadaan pasien sudah buruk. Obat puskesmas hanya bisa memperlambat sebaran penyakit,” ungkapnya.
Adapun tingkat CFR untuk kasus leptospirosis di Tulungagung terpantau tinggi mencapai 66,67 persen. Tiga korban yang meninggal kebetulan berprofesi sebagai petani dengan rentang usia antara 50 tahun hingga 60 tahun.
Dari hasil Penyelidikan Epidemiologi yang kami lakukan, ketiga korban memang kesehariannya berada di ladang. Jadi sangat berpotensi terkena leptospirosis,” ucapnya.
Dari tiga korban lepstospirosis, dua diantaranya meninggal pada Januari 2025 dan satu korban meninggal di Februari 2025. Jadi leptospirosis juga perlu disosialisasikan pada masyarakat agar lebih waspada.
“Selain terkait pengobatan, leptospirosis juga tentang profesi masyarakat. Seharusnya lepto bisa disosialisasikan pada masyarakat juga,” ujarnya.
Desi menambahkan, sesuai hasil temuan kasus leptospirosis di Tulungagung, pihaknya bersama dengan tim medis dari puskesmas, klinik dan Dinas Pertanian akan mengadakan rapat khusus untuk pencegahan dan tindakan ketika ada yang terjangkit leptospirosis.
“Kalau pengobatannya memang di dinkes, tetapi untuk sosialisasi pencegahannya kami membutuhkan dinas pertanian karena melibatkan tikus sawah,” pungkasnya.



GIPHY App Key not set. Please check settings