Tulungagung, (dNusa.id) Bupati Tulungagung Maryoto Birowo menghadiri acara jamasan tombak Kyai upas yang terletak di Pendopo griyo Kanjengan masuk Jalan Panglima Sudirman Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, pada Jum’at, (28/7/2023).
Prosesi jamasan Tombak Kiai Upas dilaksanakan di belakang Pendopo Griya Kanjengan, yang dilakukan oleh Juru kunci, Wimbosoro ditemani Bupati Tulungagung, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah Tulungagung dan Ketua DPRD Tulungagung.
Selain itu, proses jamasan diiringi oleh bacaan Surah Yasin dan Tahlil oleh warga sekitar. Suasana tambah khidmat usai dijamas, tombak dibawa ke dalam ruangan.

Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo menjelaskan bahwa Pemda telah membeli menjadi inventarisasi pemerintah. Sehingga bisa mengembalikan rumah dari Tombak Kiai.
Pihaknya menambahkan untuk menarik wisata, program ini sekaligus merupakan wisata religi. Pasalnya menurut Maryoto juga sebagai satu titik peringatan adat kebudayaan. Serta mengandung nilai-nilai luhur dari sejarah perjuangan, berdirinya Kabupaten Tulungagung dari Kabupaten Ngrowo ke Kabupaten Tulungagung.
“Kalau menjadi icon sudah lama, saat berdirinya kabupaten Tulungagung. Mau tidak mau sudah ratusan tahun,” terang Maryoto, Jum’at, (28/7/2023)
Salah satu benda pusaka bersejarah sebagai penanda Hari Jadi Kabupaten Tulungagung adalah Tombak Kiai Upas. Tepat 10 Muharram prosesi jamasan dilakukan dengan menggunakan sembilan air.
Sementara itu Juru Kunci Kanjengan Kiai Upas, Winarto menjelaskan prosesi awal jamasan di lakukan di Pendopo Griya Ndalem Kanjengan. Berhubung belum memiliki lokasi, dipindah ke Dinas Perpustakaan dan Arsip sejak 2016 hingga 2022. Baru tahun kemarin, jamasan kembali ke tempat semula.
Winarto yang dipercaya menjamas sejak 1996 silam ini mengaku, Tombak Kiai Upas dibersihkan dengan ada syarat siraman pusaka, banyu songo, dan masih banyak lain. Tak hanya itu, ia mengaku harus melakukan tirakat, namun enggan menjawab tirakat apa yang dilakukan.
“Kalau air sembilan itu, air belik, air sumur biasa, air deresan kelapa, air deresan pisang raja, air deresan randu, air tempuran, air lotehan tebu. Harus ada, tapi kita harus mencari, seperti di Candi Dadi naik,” terangnya.
Benda pusaka pemberian Kerajaan Mataram Islam ini dibersihkan hanya ujung tombak atau bilah tombak. Tombak yang panjang beberapa meter itu di bagian pegangan atau gagang tidak ikut dicuci.
Lalu, ia mengaku untuk proses penyiapan air sebetulnya satu hari cukup, terserah orang yang mencari. Namun khusus yang biasa melakukan serta dilakukan dengan mimboroso (berdiam dan tidak berbicara sama sekali) saat menuju ke lokasi sampai pulang.
“Dibilang wimbosoro iya, tapi orangnya belum tentu. Saya menggantikan bapak, mulai kakek hingga buyut, kalau saya sejak 1996,” ulasnya.
Kakek asal Kecamatan Ngantru ini menuturman selama berpuluh-puluh tahun tidak pernah mengami kejadian khusus, atas izin Allah tidak ada. Namun yang mendampingi diriny pernah melihat sesuatu.
“Pertama (menjamas) melihat seperti orang biasa, saat itu langsung saya assalamu’alaikum. Tahu-tahu sudah hilang,” kenangnya.



GIPHY App Key not set. Please check settings