Kelemahan E-TLE, Penggunaan Penutup Silau dan Kaca Film Premium Jadi Sorotan
Tulungagung, (dnusa.id) – Sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) yang diterapkan untuk meningkatkan disiplin berlalu lintas ternyata masih memiliki sejumlah kelemahan di lapangan. Beberapa temuan menunjukkan adanya celah yang dimanfaatkan pengendara untuk menghindari deteksi kamera E-TLE tersebut.
Salah satu pengguna jalan asal Karanganom, Latief Aziz menjelaskan, jika dilihat memang ada beberapa kelemahan dalam sistem E-TLE yang kerap mengirimkan surat cinta berupa surat tilang karena melakukan pelanggaran lalu lintas khususnya pengguna kendaraan roda empat akibat ter capture karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada saat berkendara.
“Mayoritas pelanggar lalu lintas khususnya mobil karena tidak mengunakan sabuk pengaman,” Jelas Aziz, Rabu, (4/3/2026).
Aziz melanjutkan, ada beberapa cara agar pengendara roda empat tidak terecord E-TLE ketika tidak mengunakan sabuk pengaman yang nota bene menjadi salah satu faktor tilang yakni mengunakan Penutup silau mobil (sun visor anti-glare).
Aksesoris yang ada pada mayoritas mobil ini dirasa cukup untuk menghindari kamera E-TLE merecord penyebab tilang tersebut.
“Semakin rendah mobil yang digunakan maka semakin tidak terlihat bahwa pengendara roda empat tersebut tidak mengunakan sabuk pengaman,” Tegasnya.
Disinggung apakah itu berlaku pada siang dan malam hari, Aziz menjawab, trik tersebut berlaku pada siang dan malam hari keduanya bisa diterapkan meskipun kamera E-TLE tersebut memiliki resolusi tinggi dalam merecord suatu kejadian serta kesulitan juga mengidentifikasi wajah pengemudi.
Aziz menambahkan, tidak hanya itu, penggunaan kaca film dengan tingkat kegelapan minimal 40 persen, terutama yang berkualitas premium dirasa mampu mengurangi kejelasan gambar dari dalam kabin, namun demikian, tidak semua kaca film 40 persen memberikan efek serupa.Beberapa kasus, penggunaan merek yang kurang berkualitas tetap membuat pengemudi dapat terekam jelas oleh kamera E-TLE.
“Kalau yang premium biasanya harga Rp 3 juta keatas mampu mengelabuhi E-TLE untuk tidak merecord pelanggaran karena tidak menggunakan sabuk pengaman,” Paparnya.
Aziz menegaskan, sesuai dengan pengalamannya ketika berkendara di perempatan Tamanan yang ada E-TLE, sebenarnya sistem E-TLE ini menangkap apa terlihat jelas jika tidak terlihat jelas sistem juga tidak mendeteksi bahwa itu sebuah pelanggaran. sejumlah pelanggar yang terecord mayoritas melanggar rambu lalu lintas dan secara jelas pula merekam pengemudi yang tidak menggunakan sabuk pengaman serta tidak memakai penutup silau maupun kaca film gelap. Dalam kondisi tersebut, identitas pengemudi relatif mudah dikenali oleh sistem.
“Jika dalam kondisi terang dan jelas dengan mudah terecord, kecuali dalam keadaan yang sulit terdeteksi dengan trik tersebut E-TLE sulit mendeteksi,” Paparnya.
Masih menurut Aziz, meski ada beberapa kelemahan dalam E-TLE ini
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa meskipun E-TLE dirancang sebagai sistem penegakan hukum berbasis teknologi, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis di lapangan. Evaluasi dan penyempurnaan sistem dinilai perlu dilakukan agar pengawasan dan penindakan pelanggaran lalu lintas dapat berjalan lebih optimal dan adil bagi seluruh pengguna jalan.
“Meksi ada beberapa kelemahan dalam sistem E-TLE, pihaknya berharap agar pengguna jalan tetap mematuhi rambu lalu lintas serta bagi pengguna roda empat tetap menggunakan sabuk pengaman ketika berkendara karena walau bagaimanapun lebih mudah menggunakan sabuk pengaman daripada memodifikasi mobil dengan menggelapkan kaca film agar tidak terdeteksi E-TLE sebagai sebuah pelanggaran,” Pungkasnya.
Kelemahan E-TLE, Penggunaan Penutup Silau dan Kaca Film Premium Jadi Sorotan



GIPHY App Key not set. Please check settings