Tulungagung, (dNusa.id) – Pada tahun 2023 kemarin, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan mencatat adanya puluhan kasus kenakaran di Kabupaten Tulungagung. Diketahui, mayoritas kasus kebakaran itu disebabkan lantaran kelalaian manusia.
Kasi Operasi Dan Pemadaman, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tulungagung, Bambang Pidekso mengatakan berdasarkan data pada tahun 2023, ada sebanyak 83 laporkan peristiwa kebakaran di Tulungagung mulai dari skala ringan sampai skala berat.
Secara rinci, sebanyak sebanyak 44 peristiwa kebakaran merupakan skala ringan, kemudian 36 kejadian kebakaran skala sedang dan sebanyak 3 kejadian kebakaran berskala berat. Dimana kasus kebakaran terbanyak terjadi di wilayah perkotaan Tulungagung yakni di wilayah Kecamatan Kedungwaru.
“Sepanjang tahun 2023 kemarin, laporan kasus kebakaran ada sebanyak 83 laporan dimana sebanyak 7 atau 8 kasus diantaranya merupakan kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),” kata Bambang Pidekso, Kamis (4/1/2024).
Terkait faktor yang menyebabkan kebakaran sendiri, ungkap Bambang, kebanyakan kasus kebakaran di Tulungagung disebabkan lantaran kesalahan manusia. Mulai dari korsleting listrik akibat instalasi listrik yang tidak sesuai standar, tidak mematikan api saat membakar sampah, hingga lupa mematikan api usai memasak.
Seperti halnya pada kasus karhutla yang terjadi di Tulungagung, dimana seluruhnya terjadi karena diduga sengaja dibakar oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang sengaja membakar lahan dengan maksut membuka lahan untuk nantinya ditanami tanaman baru.
“Faktor penyebabnya rata-rata karena kelalaian manusianya sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya kebakaran. Kebanyakan rumah yang terbakar,” ungkapnya.
Meski mayoritas kasus kebakaran berhasil ditangani, jelas Bambang, pihaknya tidak menampik jika masih ada peristiwa kebakaran di Tulungagung yang tidak bisa ditangani. Pasalnya, tempat kejadian kebakaran (TKK) tersebut sangat jauh, sehingga saat petugas tiba, api sudah melahap seluruh bangunan.
Menurut Bambang, standar pelayanan minimun (SPM) Damkar Tulungagung dalam menangani kebakaran hanya mampu menyentuh angka 80 persen. Dimana dari 83 kasus kebakaran, sebanyak 16 diantaranya tidak berhasil ditangani lantaran berlokasi di Kecamatan Rejotangan, Bandung dan Besuki.
“Untuk 16 kasus itu, lokasinya terlalu jauh memang, jadi saat kami tiba disana, api sudah melahap seluruh bangunan. Termasuk kejadian Karhutla itu juga kami sulit menangani,” pungkasnya.



GIPHY App Key not set. Please check settings